Bagaimana MCP dan A2A Bisa Mengubah Discovery B2B
Bayangkan buyer B2B mencari software procurement.
Hari ini ia mungkin membuka Google, membaca tiga artikel perbandingan, meminta demo, lalu mengirim spreadsheet requirement ke vendor.
Sekarang ubah sedikit skenarionya.
Buyer berkata ke AI assistant perusahaan, “Cari tiga vendor yang bisa sinkron dengan ERP kita, mendukung approval berlapis, punya deployment regional, lalu siapkan comparison untuk procurement meeting besok.”
Kalau assistant hanya punya akses ke web, prosesnya tetap sangat content-heavy. Ia membaca halaman vendor, dokumentasi, review, pricing, dan mungkin API docs.
Tetapi kalau ekosistemnya semakin agentic, discovery tidak berhenti pada halaman.
Assistant dapat menemukan tools yang dapat dipakai melalui MCP. Ia juga dapat menemukan agent lain yang mendeskripsikan capability mereka melalui A2A. Dari sini, B2B discovery mulai bergeser dari pertanyaan “siapa yang menulis tentang solusi ini?” ke kombinasi pertanyaan yang lebih operasional: “siapa yang bisa membuktikan capability ini dan berinteraksi secara machine-readable?”
Perubahan itu belum berarti website B2B akan hilang. Justru website, documentation, identity, dan trust layer bisa menjadi semakin penting. Yang berubah adalah objek yang ditemukan.
Dulu objeknya terutama page.
Besok objeknya bisa page, tool, server, Agent Card, API, atau kombinasi semuanya.
Saat discovery bertemu capability
Di B2B, buyer intent hampir selalu punya dua lapisan.
Lapisan pertama adalah informasi.
Apa solusi ini? Siapa vendornya? Apa bedanya? Berapa harga? Apakah aman? Apakah cocok untuk industri saya?
Lapisan kedua adalah capability.
Bisakah sistem ini menarik invoice? Bisa integrasi ke ERP tertentu? Bisa membuat ticket? Bisa mengakses catalog? Bisa memproses request sesuai policy? Bisa berkolaborasi dengan sistem partner?
Search tradisional sangat kuat di lapisan informasi.
MCP dan A2A membuka jalan agar capability ikut menjadi sesuatu yang lebih mudah dipahami dan digunakan sistem AI.
MCP menyediakan pola standar untuk aplikasi AI mengakses resources, prompts, dan tools dari server. A2A menyediakan bahasa untuk agent independen menemukan capability, berkomunikasi, mendelegasikan tugas, dan berbagi hasil.
Di sinilah discovery B2B mulai menarik.
Vendor tidak lagi cukup berkata, “Kami punya integration.”
Mesin bisa semakin membutuhkan deskripsi yang spesifik: capability apa, endpoint apa, security scheme apa, input apa, output apa, versi apa, dan batasnya apa.
Marketing copy tetap penting untuk manusia.
Machine-readable capability menjadi lapisan lain.
“Jadi nanti agent memilih vendor sendiri?”
Belum tentu, dan tidak seharusnya selalu begitu.
Dalam ruang meeting, seorang procurement manager mungkin berkata, “Gue oke AI bantu shortlist, tapi kontrak 2 miliar jangan sampai dia pilih vendor tanpa review.”
Itu posisi yang masuk akal.
Discovery bukan decision authority.
Sistem agentic dapat mempercepat pencarian, verifikasi awal, pengumpulan requirement, atau bahkan trial action. Tetapi perusahaan tetap dapat menetapkan human approval untuk tindakan bernilai tinggi.
Justru karena AI bisa melakukan lebih banyak, batas antara discovery, recommendation, dan execution harus dibuat lebih jelas.
Untuk tim GEO dan B2B marketing, ini penting. Target visibility masa depan bukan sekadar “AI menyebut brand kita”. Ada kemungkinan funnel berkembang menjadi:
AI menemukan brand.
AI memahami capability brand.
AI mengecek apakah capability cocok dengan requirement.
AI memanggil tool atau agent untuk memperoleh informasi tambahan.
AI memasukkan brand ke shortlist.
Manusia atau sistem governance menyetujui langkah selanjutnya.
Di funnel seperti itu, brand visibility dan capability interoperability saling bertemu.
MCP Registry memberi preview arah baru
Ekosistem MCP sudah memiliki Official MCP Registry. Per Agustus 2026, registry itu masih berstatus preview. Fungsinya sebagai centralized metadata repository untuk MCP server yang dapat diakses publik.
Poin paling penting bukan jumlah server di dalamnya.
Poinnya adalah pola discovery.
Kalau sebelumnya developer menemukan integrasi lewat dokumentasi, marketplace, GitHub, atau rekomendasi manual, registry memberikan katalog machine-oriented yang lebih konsisten.
MCP Registry hanya menyimpan metadata, bukan berarti otomatis menjamin kualitas bisnis atau keamanan setiap layanan. Preview juga berarti struktur dan perilakunya masih dapat berubah sebelum general availability.
Tetapi arah konseptualnya jelas: tool discovery mulai menjadi domain yang perlu infrastruktur sendiri.
Buat B2B SaaS, pertanyaannya nanti bisa mirip pertanyaan SEO dua dekade lalu.
“Kalau capability kita tidak hadir di tempat mesin mencari, apakah kita invisible?”
Jawabannya belum bisa dibuat absolut. Tidak ada bukti bahwa masuk registry tertentu otomatis membuat vendor dipilih AI. Ecosystem-nya masih berubah.
Namun sebagai strategi discovery, keberadaan metadata capability yang standar jelas lebih mudah diproses mesin daripada capability yang hanya disebut samar di sebuah PDF brochure.
A2A punya jalur discovery yang berbeda
A2A menarik karena ia tidak memaksakan satu sistem discovery.
Dokumentasi resmi membahas beberapa strategi.
Public agent dapat menyediakan Agent Card pada well-known URI di domainnya. Enterprise dapat memakai curated registry. Sistem privat dapat memakai direct configuration.
Curated registry memungkinkan pencarian berdasarkan skill, tag, provider, atau capability. Tetapi spesifikasi A2A saat ini tidak menetapkan satu standard API universal untuk semua curated registry.
Ini detail kecil yang dampaknya besar.
Artinya, kita belum berada di dunia dengan satu index global agent yang setara mesin pencari universal.
Discovery bisa terfragmentasi.
Ada discovery berbasis domain.
Ada private enterprise catalog.
Ada marketplace.
Ada registry milik platform.
Ada direct configuration untuk hubungan partner yang memang tidak ingin publik.
Dari perspektif B2B, itu sangat masuk akal. Tidak semua capability ingin diumumkan ke internet.
Sebuah bank mungkin punya agent internal untuk compliance. Supplier strategis mungkin mendapat akses ke agent procurement tertentu setelah autentikasi. Capability premium bisa muncul hanya setelah login melalui Extended Agent Card.
Discovery B2B dari awal memang penuh entitlement. Dunia agent akan membawa pola yang sama.
Website perusahaan tetap jadi anchor trust
Ada risiko tim marketing salah membaca tren.
“Kalau ada MCP Registry dan Agent Card, homepage berarti tidak penting dong?”
Tidak.
Sebuah endpoint bisa machine-readable, tetapi buyer dan risk team tetap butuh bukti siapa operatornya.
Perusahaan perlu legal identity.
Security team perlu documentation.
Procurement perlu terms, SLA, data processing information, compliance scope, dan escalation path.
Manusia ingin tahu siapa yang bertanggung jawab kalau sesuatu gagal.
Agent juga dapat memakai sinyal domain, provider metadata, signed identity, atau registry context sebagai bagian dari proses trust.
Jadi web presence tidak lenyap. Ia berubah dari satu-satunya permukaan discovery menjadi salah satu anchor penting dalam graph yang lebih besar.
Brand yang kuat di agentic B2B kemungkinan tidak hanya memiliki content.
Ia memiliki coherent identity across surfaces.
Nama perusahaan konsisten.
Product taxonomy konsisten.
Capability descriptions konsisten.
Documentation tidak bertentangan dengan marketing.
Agent Card tidak mengklaim skill yang tidak didukung produk.
MCP tool descriptions tidak memakai bahasa vague.
API dan website menjelaskan entitlement dengan cara yang sama.
Support contact jelas.
Security posture dapat diverifikasi.
Ini mulai terlihat seperti knowledge graph, tetapi bukan hanya graph entitas. Ini graph entitas plus capability.
GEO perlu memperluas definisi “discoverable”
Selama beberapa tahun, Generative Engine Optimization banyak membahas bagaimana brand dapat dipahami, disebut, dirujuk, atau dikutip sistem AI.
Itu tetap relevan.
Tetapi agentic discovery menambah pertanyaan kedua: apakah brand bisa dipakai?
Bayangkan dua vendor.
Vendor A punya seratus artikel SEO dan halaman produk yang bagus, tetapi capability teknisnya hanya dijelaskan dengan kalimat “integrasi seamless dengan sistem Anda”.
Vendor B punya content lebih sedikit, tetapi dokumentasi capability jelas, API stable, MCP server terdokumentasi, permission model transparan, dan agent endpoint dengan identity yang dapat diverifikasi.
Untuk query informasional, Vendor A bisa unggul.
Untuk workflow agentic, Vendor B mungkin lebih mudah dievaluasi secara programmatic.
Ini bukan prediksi ranking. Belum ada alasan untuk menyebut protocol support sebagai faktor citation universal. Jangan mengubah observasi arsitektur menjadi mitos ranking.
Namun dari perspektif usability untuk agent, machine-readable capability memang memperkecil ambiguity.
Dan ambiguity adalah biaya.
Buyer B2B sebenarnya sudah lama membayar biaya itu melalui sales call.
“Apakah bisa SSO?”
“Bisa.”
“SCIM?”
“Nanti saya cek engineer.”
“Data residency?”
“Sebentar saya tanyakan tim infra.”
“API untuk create user?”
“Ada, tapi di paket enterprise.”
Satu jam meeting habis hanya untuk menemukan batas capability.
Kalau sebagian informasi tersebut dapat disediakan secara structured dan authorized, agent dapat membantu pre-qualification jauh lebih cepat.
Discovery bisa berubah menjadi negotiation surface
Ini bagian yang lebih jauh, tetapi worth watching.
Saat agent tidak hanya menemukan informasi, tetapi dapat bertukar task dan hasil, discovery dapat menyatu dengan evaluation.
Contohnya buyer ingin vendor analytics.
Agent buyer menemukan tiga kandidat. Ia mengirim test dataset yang sudah disanitasi. Masing-masing vendor agent mengembalikan output sesuai capability. Sistem mengecek latency, format, coverage, atau constraint. Setelah itu manusia meninjau hasil.
Di sini discovery tidak lagi sekadar reading.
Discovery menjadi controlled interaction.
Buat B2B sales, implikasinya cukup besar.
Demo mungkin tidak selalu dimulai dengan manusia mengisi form.
Sebagian buyer dapat datang melalui machine channel yang ingin menguji capability sebelum berbicara dengan account executive.
Pertanyaan pentingnya bukan “bagaimana memaksa agent mengisi lead form?”
Pertanyaannya “bagaimana kita memberi jalur yang aman untuk machine buyer mengevaluasi produk, sambil tetap menjaga qualification dan commercial control?”
Itu jauh lebih strategis.
Apa yang sebaiknya dilakukan perusahaan sekarang?
Tidak perlu buru-buru membangun agent publik hanya supaya terlihat future-ready.
Mulai dari audit discovery surface.
Pertama, cek apakah informasi capability utama sudah eksplisit di website dan dokumentasi. Hindari istilah marketing yang tidak menjelaskan apa yang benar-benar bisa dilakukan sistem.
Kedua, petakan API dan tools yang mungkin relevan untuk AI workflows. Mana yang read-only, mana yang bisa mengubah state, mana yang berisiko tinggi.
Ketiga, evaluasi apakah MCP memberi manfaat dibanding koneksi API biasa. Jangan membungkus semua endpoint menjadi MCP tanpa alasan.
Keempat, kalau organisasi punya agent yang benar-benar independen dan perlu berkolaborasi lintas platform atau perusahaan, baru evaluasi A2A.
Kelima, definisikan identity dan trust. Capability publik tanpa ownership yang jelas justru menciptakan risiko.
Keenam, pikirkan discovery policy. Apa yang boleh ditemukan publik? Apa yang hanya muncul setelah autentikasi? Apa yang hanya tersedia untuk partner tertentu?
Ketujuh, uji dari perspektif buyer agent. Kalau sistem AI mencari capability perusahaan Anda, informasi apa yang akan ia lihat, dan di titik mana ia akan mengalami ambiguity?
Discovery B2B tidak hilang. Ia mendapat channel baru.
Pada era search, brand bersaing untuk ranking.
Pada era answer engine, brand bersaing untuk inclusion dan citation.
Pada era agentic workflow, brand dapat mulai bersaing untuk selection dan execution.
Empat tahap itu tidak harus menggantikan satu sama lain. Kemungkinan besar semuanya hidup bersamaan.
Orang masih akan Google.
Orang masih akan membaca website.
AI masih akan menyusun jawaban.
Dan agent mulai mengambil peran dalam meneliti, membandingkan, memanggil capability, serta mengoordinasikan pekerjaan.
MCP dan A2A bukan tombol ajaib yang membuat perusahaan otomatis ditemukan.
Mereka adalah bagian dari infrastruktur yang membuat capability lebih interoperable.
Buat tim B2B, kesempatan terbesarnya mungkin bukan mengejar nama protokol. Kesempatannya adalah memastikan saat discovery bergerak dari “siapa yang tahu?” ke “siapa yang bisa?”, brand Anda punya jawaban yang jelas untuk keduanya.
Bacaan terkait di GEO.or.id
- Cluster: AI Protocols
- Kerangka terkait: Model Context Protocol: Scope, Architecture, and Governance
- Kerangka terkait: Agent2Agent Protocol and Agent Cards
- Artikel terkait: Agent Discovery Registry: Apakah Kita Akan Punya Search Engine untuk Agent
- Artikel terkait: Peta Protokol Agentic 2026: MCP, A2A, APIs, dan Web
- Artikel terkait: MCP dan A2A untuk Non-Developer: Penjelasan tanpa Jargon Berlebihan
- Artikel terkait: MCP vs A2A: Tool Access dan Agent Collaboration Itu Beda Masalah
